Puisi Pendek dan Singkat Tentang Kucing

  • by

Kucing dipelihara karena lucu dan menggemaskan. Berikut ini adalah kumpulan puisi tentang kucing, berjudul kucing atau membahasa tentang kucing . ada juga puisi yang dibuat oleh penyair sastrawan terkenal. selain itu ada juga puisi kucing jalanan

1.KUCING JALANAN

Aku adalah kucing jalanan
Hidup dijalan tanpa arah tujuan
Aku berjalan hanya dengan rasa belaka
Melompat dari satu atap rumah
Keatap rumah orang lain
Caci maki sudah biasa berdengung di telingaku
Tak jarang kedatanganku di sambut kerasnya sapu
Sudah biasa aku rasakan itu.
Aku kucing jalanan bukan kucing rumahan yang dimanja majikan
Di elus bulunya yang lembut berbau sabun salon hewan
Tapi ditendang waktu ketahuan mencuri makanan majikan
Aku kucing jalanan yang di permainkan waktu
Sedetik tadi aku di elus oleh orang- orang di atap pertama sebuah rumah
Tapi sedetik kini aku di lempari gagang sapu di hadapan kumisku
Aku kucing jalanan meski tidurku diatas kasur rumahan.

2.Kucingku

Kucingku…
Kucingku yang manis…
Engkau amat lucu di mataku…
Suaramu yang melengking tapi indah…
Membuat suasana ramai di rumahku…
Dikala ku sedih…
Kau menghiburku dengan gerakanmu yang lucu…
Dikala ku marah…
Kau meredamkan amarahku hingga ku tersenyum kembali…
Kucingku yang ku sayangi…
Engkau adalah obat yang manjur untukku…
Kucingku…
Kau kucing kesayanganku…

You May Also Like :   Puisi Tentang Rahasia Hidup | Ayid Suyitno PS

3.Kucing

Bulumu halus nan bersih
Di sampingmu ku tak pernah risih
Suaramu menenangkan hati
Bersamamu ku nikmati hari

Kala sedih aku terhibur
Dengan suaramu yang seperti mendengkur
Wajah lucu nan mungil itu
Menemaniku hingga tertidur

Kucingku sayang…
Betapa ku sedih saat kau menghilang
Selalu terbayang-bayang
Hatiku pun tak bisa tenang

Kucingku yang lucu
Kala ku sedih kau menghiburku
Dengan suara erangmu
Hilang sudah rasa sedihku

4.Seekor Kucing Hitam
(Si dia)

(Karya Kurniawan Junaedhie)

Seekor kucing hitam mengeong berkepanjangan
Perempuan itu mencopot pakaiannya
menyerahkan tubuhnya:
untukmu, katanya, hanya untukmu
Suaranya parau, seperti leher burung terkena pisau

Lalu dia memadamkan lampu,
dan rebah di ranjang
seperti sebilah pedang

Lalu malam bertemu siang
Peluh pun jatuh berleleran
Setelah bergulingan semalaman.
perempuan itu kembali pada suaminya,
Dan si lelaki kembali pada istrinya
hidup jalan terus seperti lazimnya

Hanya mereka terlanjur hafal tahi lalat mereka
Satu di pantat kiri, satu di dekat kelamin,
Sebuah tanda lahir di dekat payudara
Juga sebuah kenangan yang mengapung di tengah samudera.

You May Also Like :   Puisi Tentang Perawat Pahlawan Kesehatan

5.Kucing, Ikan Asin dan Aku

(Karya Wiji Thukul)

Seekor kucing kurus
menggondol ikan asin
laukku untuk siang ini

Aku meloncat
kuraih pisau
biar kubacok dia
biar mampus!

Ia tak lari
tapi mendongak
menatapku
tajam

Mendadak
lunglai tanganku
aku melihat diriku sendiri

Lalu kami berbagi
kuberi ia kepalanya
(batal nyawa melayang)
aku hidup
ia hidup
kami sama-sama makan.

6.Mata Kucing

(Karya Joko Pinurbo)

Ia punya tiga kucing bermata indah di rumahnya.
Yang matanya menyala seperti senter yang dipakai
peronda disebutnya mata ronda. Yang memancarkan
cahaya langit biru dinamainya mata langit. Yang bening
berkilau seperti kolam dipanggilnya mata kolam.

Suatu malam si mata langit meminta si mata kolam
membujuk si mata ronda agar bertanya kepada
yang empunya rumah cahaya apa yang dipancarkan
matanya di tengah dunia gemerlap yang sering
gelap ini. Yang empunya rumah bingung harus bilang
apa. Kucing-kucing yang tak paham bahasa puisi itu
mungkin sedang gundah melihat mata manusia.

7. KUCING

(Oleh sutardji Calzoum Bachri)

Ngiau! Kucing dalam darah dia menderas
lewat dia mengalir ngilu ngiau dia bergegas lewat dalam aortaku dalam rimba
darahku dia besar dia bukan harimau bukan singa bukan hiena bukan leopar
dia macam kucing bukan kucing tapi kucing
ngiau dia lapar dia merambah rimba afrikaku dengan cakarnya dengan amuknya
dia meraung dia mengerang jangan beri
daging dia tak mau daging Jesus jangan
beri roti dia tak mau roti ngiau kucing meronta dalam darahku meraung
merambah barah darahku dia lapar 0 alangkah lapar ngiau berapa juta hari
dia tak makan berapa ribu waktu dia
tak kenyang berapa juta lapar lapar kucingku berapa abad dia mencari mencakar menunggu tuhan mencipta kucingku
tanpa mauku dan sekarang dia meraung
mencariMu dia lapar jangan beri daging jangan beri nasi tuhan menciptanya tanpa setahuku dan kini dia minta
tuhan sejemput saja untuk tenang sehari untuk kenyang sewaktu untuk tenang..

You May Also Like :   Puisi Karya W.S. Rendra - Ballada Ibu Yang Dibunuh

Sumber 1 2 3 4

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *